HITZ SERPONG-Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie menyebut Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik menjadi salah satu kunci keberhasilan Kota Tangsel dalam mencapai nol kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak 2024 hingga pertengahan 2026.
Melalui gerakan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat tersebut, Pemkot Tangsel terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian DBD di lingkungan permukiman.
Hal itu disampaikan Benyamin saat menghadiri peringatan ASEAN Dengue Day (ADD) Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Kamis 25 Juni 2026.
Baca lainnya:
Polres Tangsel Gelar Ziarah dan Tabur Bunga Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Tangsel Bambang Noertjahjo bersama jajaran perangkat daerah, tenaga kesehatan, serta para Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pencegahan DBD.
“Sejak tahun 2024, 2025, dan sampai hari ini tingkat kematian akibat DBD itu sudah nol di Tangsel, dan ini merupakan hasil berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat,” ujarnya.
Benyamin mengatakan, keberhasilan menekan angka kematian akibat DBD merupakan hasil kolaborasi panjang antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader kesehatan, hingga masyarakat yang secara aktif melakukan pencegahan.
Ia menjelaskan, upaya pengendalian DBD di Tangsel telah dilakukan secara sistematis sejak lama. Bahkan, gerakan pemberantasan sarang nyamuk bermula dari inisiatif masyarakat melalui pembentukan kelompok Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di wilayah Pamulang sejak 2016.
Menurutnya, meskipun angka kasus DBD tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya, pemerintah terus berupaya menekan jumlah kasus dan mempertahankan capaian nol kematian.
“Alhamdulillah saat ini angka keterjangkitan DBD di Tangsel terus cenderung menurun, dan itu memang tidak bisa kita nolkan, hanya bisa kita batasi. Tetapi, yang bisa kita nolkan adalah tingkat kematian akibat DBD-nya,” jelasnya.
RW Bebas Jentik sebagai Motivasi dan Evaluasi
Benyamin menegaskan, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat.
Karena itu, Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik terus didorong menjadi budaya hidup sehat.
Selain itu, Pemkot Tangsel juga menjalankan program RW Bebas Jentik sebagai bentuk apresiasi bagi lingkungan yang berhasil menjaga wilayahnya bebas dari jentik nyamuk.
“Sudah banyak RW yang mendapatkan sertifikasi RW Bebas Jentik. Ini menjadi motivasi bagi wilayah lain agar semakin aktif melakukan pencegahan,” kata Benyamin.
Baca lainnya:
Pemkot Tangsel Siapkan Bantuan Rp1,8 Juta untuk Siswa yang Tak Masuk SMP Negeri
Ia menambahkan, capaian sejumlah wilayah yang telah berhasil mempertahankan status bebas jentik akan menjadi bahan evaluasi bagi kecamatan dan kelurahan yang masih memiliki tingkat temuan jentik cukup tinggi.
Namun, Benyamin optimistis upaya kolaboratif tersebut akan terus menekan angka kasus DBD di Tangsel.
“Saya optimistis, sekarang saja sudah lebih baik. Memang kalau bebas jentik nyamuk tidak, tetapi nol kematian akibat DBD angkanya terus kita tekan dan itu sangat mungkin,” tutupnya. (Eka)
Ikuti HITZ SERPONG di Saluran Whatsapp







