HitzSerpong – Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, memberikan apresiasi terhadap capaian Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang berhasil menembus 5 juta ton. Jumlah ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah dan dinilai mencerminkan penguatan ketahanan pangan nasional.
Ia menilai, tingginya cadangan beras tersebut menunjukkan adanya peluang percepatan menuju swasembada pangan nasional.
“Presiden Prabowo memberi target empat tahun untuk swasembada beras, tetapi Menteri Pertanian hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk mewujudkannya. Ini luar biasa,” ujar Rajiv dikutip dari laman resmi DPR RI, Kamis (30/4/2026).
Baca Lainnya:
Terbuka Investasi Digital Global, Indonesia Tegaskan Batas Perlindungan Data
Produksi 5,7 Juta Ton per Bulan, Stok Aman hingga 324 Hari
Lebih lanjut, ia mencatat produksi beras nasional mencapai sekitar 5,7 juta ton per bulan. Dengan capaian tersebut, kondisi pangan Indonesia dinilai relatif aman dalam beberapa bulan ke depan.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian dan ancaman gangguan pangan, kita justru aman karena memiliki cadangan pangan yang berlimpah hingga 324 hari ke depan. Bahkan setiap bulan produksi beras kita mencapai 5,7 juta ton,” ungkapnya.
Program Strategis Kementan Mulai Berbuah
Menurut Rajiv, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai program strategis yang dijalankan Kementerian Pertanian, seperti ekstensifikasi sawah, optimalisasi lahan penyediaan benih unggul, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), subsidi pupuk, serta penguatan hilirisasi sektor pertanian dan peternakan.
Ia menilai, program-program tersebut mulai menunjukkan hasil nyata dalam meningkatkan produksi pangan nasional.
Peringatan: Jangan Lengah Hadapi El Nino
Meski demikian, Rajiv mengingatkan pemerintah agar tidak lengah terhadap potensi gangguan iklim, khususnya ancaman El Nino yang dapat berdampak pada produksi pertanian.
“Semua prestasi pastinya akan diuji dengan kondisi yang selalu berubah. Tahun ini Kementan harus siap dan tidak lengah menghadapi El Nino berupa kemarau panjang yang lebih kering yang mengancam produksi pertanian kita,” terangnya.
Baca Lainnya:
KAI Daop 1 Pastikan Refund 100 Persen Tiket KA Terdampak
Harapan: Capaian Dijaga Berkelanjutan dengan Mitigasi Tepat
Menutup pernyataan, Rajiv berharap capaian yang telah diraih dapat dijaga secara berkelanjutan, sekaligus diantisipasi dengan langkah mitigasi yang tepat guna menghadapi berbagai risiko ke depan.
Dengan stok beras tertinggi dalam sejarah ini, Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, tetapi telah menjadi kenyataan yang terukur.
Namun, kewaspadaan terhadap perubahan iklim tetap harus menjadi prioritas agar kemandirian pangan tetap terjaga.(eka)






