Program MBG Sukses Serap 1,28 Juta Pekerja & Libatkan 142 Ribu Pemasok

HitzSerpong-Dulu banyak yang nyinyir. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut hanya akan menguras uang negara untuk sekadar bagi-bagi nasi kotak. Anggaran besar dianggap pemborosan yang tidak jelas ujungnya.

Tapi kini, fakta berbicara. Dan faktanya membuat kita semua bisa menarik napas lega sekaligus bangga.

Badan Gizi Nasional (BGN) baru saja merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini bukan program konsumtif, melainkan mesin ekonomi rakyat yang dahsyat

Baca Lainnya:

Amazon Siapkan Investasi Lebih dari US$33 Miliar untuk AI dan Cloud di Asia Tenggara

1,28 Juta Pekerja Terserap di 29 Ribu Lebih Dapur MBG

Bayangkan angka ini: 1,28 juta tenaga kerja kini memiliki pekerjaan berkat program MBG. Mereka tersebar di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur pusat MBG yang beroperasi di seluruh Indonesia.

Para pekerja ini setiap hari bertanggung jawab menyiapkan makanan bergizi bagi 62,45 juta penerima manfaat. Jumlah yang luar biasa besar, terdiri dari peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga santri.

Di tengah isu banyak perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), program MBG justru hadir sebagai penyelamat yang membuka lapangan kerja super masif. Ini bukan isapan jempol, tapi data nyata dari lembaga resmi pemerintah.

142 Ribu Pemasok: UMKM, Koperasi, BUMDes Ikut Kecipratan

Yang lebih membanggakan, program MBG tidak hanya menyerap tenaga kerja langsung. Rantai pasoknya juga menggerakkan ekonomi dari hulu ke hilir.

BGN mencatat, hingga 22 Mei 2026, sudah ada 142.387 pemasok yang terlibat dalam program MBG. Rinciannya:

  • 59.921 pelaku UMKM — ini adalah para ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda yang punya usaha kecil di daerah.
  • 13.306 koperasi — gerakan ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.
  • 690 Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) — program baru yang langsung terintegrasi.
  • 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) — uang muter di desa, tidak menguap ke kota.
  • 157 Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) — kolaborasi antardesa yang makin kuat.
  • 66.903 pemasok lainnya dari berbagai kategori penyedia bahan pangan dan jasa pendukung.

Artinya apa? Duit benar-benar muter di bawah. Program ini bukan sekadar memberi makan anak sekolah, tapi juga memastikan petani punya pembeli pasti, peternak laku keras, dan kurir di daerah dapat rezeki.

Hitungan Nyata: Beras, Ayam, Susu yang Terserap Setiap Hari

Agar lebih membumi, mari kita lihat angka kebutuhan satu SPPG saja. Untuk memenuhi 3.000 porsi MBG per hari, satu dapur pusat membutuhkan:

  • 200 kilogram beras per hari = 4,8 ton per bulan.
  • 2.800 ekor ayam per bulan (dengan asumsi menu ayam dua kali seminggu).
  • 450 liter susu per hari (masing-masing penerima mendapat 150 ml per sajian).

Kalikan dengan 29.225 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia. Berapa ton beras, berapa juta ekor ayam, berapa ribu liter susu yang terserap setiap bulan?

Angkanya fantastis. Dan semua itu dibeli dari petani lokal, peternak lokal, nelayan lokal. Bukan impor. Bukan dari tengkulak besar. Tapi dari akar rumput.

Presiden Prabowo: “Kita Pastikan Pasar Terjamin”

Data BGN ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Sidang Paripurna DPR RI ke-19, Rabu (20/5/2026). Dengan penuh keyakinan, Presiden menyampaikan capaian program unggulannya.

“Dari MBG saja kita sudah buka 1,2 juta lapangan kerja baru di dapur-dapur. Dan kita pastikan pasar terjamin, offtake terjamin untuk puluhan juta petani kita, peternak kita, dan nelayan kita,” ungkap Presiden.

Kata kuncinya adalah “offtake terjamin” — sebuah istilah sederhana yang berarti petani tidak perlu lagi khawatir hasil panennya tidak laku. Tidak ada lagi cerita buah busuk tidak terbeli, sayur layu di pinggir jalan, atau telur menumpuk tanpa pembeli.

Baca Lainnya:

Meta Hadirkan Pengaturan Konten 13+ demi Ruang Digital Remaja yang Lebih Aman

Mari Dukung Program Pro-Rakyat

Program MBG telah membuktikan diri. Ia bukan sekadar program sosial yang menghabiskan uang negara. Ia adalah stimulus ekonomi terbesar yang menyentuh langsung rakyat kecil.

Anak-anak Indonesia mendapat gizi yang cukup untuk tumbuh cerdas dan kuat. Pengangguran berkurang hampir 1,3 juta jiwa. Petani, peternak, dan nelayan mendapat kepastian pasar. UMKM dan koperasi bangkit. Desa-desa bergerak. (Eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *