HITZ SERPONG-Fenomena ketakutan terhadap pernikahan atau yang dikenal dengan istilah marriage is scary kian ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan generasi muda.
Melansir laman resmi PP Muhammadiyah, persepsi ini muncul seiring maraknya kasus rumah tangga yang viral, tingginya angka perceraian, hingga kekhawatiran kehilangan kebebasan setelah menikah.
Mengutip keterangan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara pandang generasi Z dan milenial terhadap pernikahan.
Menanggapi fenomena itu, Anggota Divisi Keluarga Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah, Dr. Asmar, menegaskan bahwa ketakutan terhadap pernikahan lahir dari kombinasi faktor psikologis dan sosial yang perlu dipahami secara proporsional.
Baca lainnya:
MODENA Ekspansi ke Kamboja, Perkuat Pasar Home Appliances di Asia Tenggara
Hal tersebut disampaikannya dalam podcast Harmoni Keluarga pada Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Asmar, faktor psikologis menjadi salah satu penyebab dominan terbentuknya persepsi negatif terhadap pernikahan.
Banyak anak muda tumbuh dengan pengalaman menyaksikan konflik rumah tangga orang tua, mendengar kisah perselingkuhan, hingga melihat kegagalan pernikahan di lingkungan sekitarnya.
“Sebagian anak muda memiliki trauma karena sejak kecil melihat ayah dan ibunya sering bertengkar. Mereka juga mendengar curahan hati teman-temannya tentang konflik rumah tangga, perselingkuhan, dan berbagai masalah lainnya. Akhirnya muncul ketakutan untuk menikah karena takut mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Selain trauma, ketakutan gagal, rasa khawatir salah memilih pasangan, hingga ketidakpercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain turut memperbesar kecemasan terhadap pernikahan.
Asmar menambahkan, kecenderungan overthinking dan keinginan untuk menemukan pasangan yang dianggap ideal turut memperumit situasi.
Baca lainnya:
PP KAMMI Dukung Sikap MUI soal Pencegahan LGBT, Soroti Dampak bagi Generasi Muda
“Anak muda sekarang sering kali menginginkan segala sesuatu yang ideal. Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Ketika standar yang dipasang terlalu tinggi, akhirnya mereka sulit menemukan pasangan dan semakin takut melangkah ke jenjang pernikahan,” katanya.
Dari sisi sosial, tingginya angka perceraian juga memperkuat persepsi bahwa pernikahan identik dengan konflik dan kegagalan.
Di sisi lain, persoalan ekonomi menjadi faktor penting yang membuat banyak generasi muda merasa belum siap membangun rumah tangga.
“Ada perasaan bahwa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja masih kesulitan, apalagi harus menanggung keluarga. Pikiran seperti ini membuat mereka merasa belum siap menikah,” jelasnya.
Meski demikian, Asmar menilai menghindari pernikahan bukanlah solusi. Ia menekankan perlunya meluruskan persepsi generasi muda agar memahami pernikahan secara lebih utuh.
Menurutnya, manusia memiliki kebutuhan bertahap, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan kasih sayang, penghargaan, aktualisasi diri, hingga spiritualitas.
“Banyak anak muda sekarang langsung mengejar aktualisasi diri dan validasi sosial, padahal ada kebutuhan lain yang juga penting, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki serta kebutuhan akan cinta,” tuturnya.
Sebagai upaya membangun keluarga yang lebih kokoh, PP ‘Aisyiyah membuka program Sekolah Pranikah bagi generasi muda, baik yang belum memiliki pasangan maupun yang tengah mempersiapkan diri menuju pernikahan.
Program tersebut menghadirkan berbagai materi dan psikoedukasi, mulai dari pengelolaan konflik, manajemen stres, komunikasi dalam hubungan, hingga membangun relasi yang sehat. Pendampingan juga berlanjut melalui program pascanikah dan parenting.
Selain itu, bagi pasangan yang menghadapi persoalan rumah tangga, PP ‘Aisyiyah menyediakan layanan konsultasi melalui BIKSA (Biro Konsultasi Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah), termasuk BIKSA Permata Hati di tingkat pusat.
Baca lainnya:
Pendopo Rayakan 15 Tahun, Perkuat Dukungan untuk 300 UMKM dan Pelestarian Budaya
Asmar menegaskan bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi.
“Tidak menikah ada masalahnya, menikah juga ada masalahnya. Semua pilihan hidup memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Yang penting adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mengelola dan menyelesaikannya,” tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari marriage is scary menjadi marriage is happiness.
“Kebahagiaan dalam pernikahan bukan sesuatu yang datang begitu saja, tetapi dibangun dan ditumbuhkan bersama oleh suami dan istri,” tutupnya. (Eka)
Ikuti HITZ SERPONG di Saluran Whatsapp













