Perimenopause Bisa Dikelola Tanpa Over Treatment, Primaya Hospital Ajak Perempuan Kenali Perubahan Tubuh Sejak Dini

HITZ SERPONG-Memasuki usia 40 tahun, banyak perempuan mulai mengalami perubahan seperti siklus menstruasi tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, hingga kenaikan berat badan.

Primaya Hospital mengingatkan bahwa mengenali dan memahami perubahan tubuh merupakan langkah penting agar perempuan dapat menjalani proses penuaan dengan sehat, nyaman, dan bahagia, tanpa perlu cemas berlebihan maupun melakukan over treatment.

Perimenopause umumnya terjadi pada rentang usia 40–50 tahun, ketika banyak perempuan berada pada puncak karir sekaligus menjalankan berbagai peran dalam keluarga.

Baca lainnya:

Pada fase ini, perubahan kadar estrogen dan progesteron tidak hanya mempengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga kesehatan tulang dan otot, metabolisme, kualitas tidur, kesehatan mental, fungsi kandung kemih, hingga kondisi kulit dan rambut.

CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menegaskan bahwa perempuan membutuhkan pendampingan kesehatan menyeluruh karena perubahan selama perimenopause berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.

“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman. Yang terpenting, perempuan tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan hingga melakukan over treatment, tetapi memahami kapan harus berobat dan mendapatkan pertolongan agar tidak terlambat,” ujarnya dalam seminar “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause” di Jakarta, Jumat (18/7).

Dalam seminar berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli tersebut, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa rata-rata perempuan mulai memasuki perimenopause pada usia sekitar 47,5 tahun, sementara menopause umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun.

Dengan angka harapan hidup perempuan yang mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga kehidupannya akan dijalani pada fase klimakterik sehingga penting mengenali perubahan tersebut sejak dini.

Dari sisi kesehatan kulit, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC mengungkapkan bahwa penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang.

Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, kemudian terus berkurang sekitar 2 persen setiap tahun. Sementara itu, rambut dapat menjadi lebih tipis akibat memendeknya fase pertumbuhan rambut. Kondisi ini dapat dikelola melalui perawatan yang tepat.

Aktivitas fisik juga menjadi kunci pengelolaan gejala perimenopause. dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan bahwa sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap berperan penting dalam menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, serta membantu mengurangi berbagai gejala.

Selain perubahan fisik, perempuan juga menghadapi perubahan emosional yang sering kali bertepatan dengan berbagai tantangan kehidupan.

Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc, menuturkan bahwa perubahan suasana hati merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang terjadi bersamaan dengan tekanan hidup.

Ia merekomendasikan metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu) untuk mengelola stres.

Baca lainnya:

Menutup sesi, Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase yang dapat dijalani tanpa mengurangi produktivitas.

“Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta dukungan keluarga dan lingkungan kerja, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya,” tuturnya.

Primaya Hospital berharap seminar ini mendorong semakin banyak perempuan berani membicarakan perimenopause secara terbuka, mengenali perubahan tubuh sejak dini, serta mendapatkan pendampingan medis yang tepat agar tetap sehat, aktif, dan produktif.(Eka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *