HitzSerpong – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan optimismenya terhadap prospek nilai tukar rupiah. Dalam keterangannya usai Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Perry mengatakan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued (terlalu murah) dan berpotensi menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional.
“Tadi disampaikan oleh Pak Menko, fundamental kita kuat. Pertumbuhan sangat tinggi, 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” ujarnya dikutip dari laman resmi Setneg, ditulis Rabu (6/5/2026).
Baca Lainnya:
Presiden Prabowo di Hari Buruh, Pendapatan Pengemudi Naik Jadi Minimal 92 Persen
Tekanan Jangka Pendek: Harga Minyak, Suku Bunga AS, dan Musim Haji
Perry mengakui adanya tekanan jangka pendek terhadap rupiah yang dipicu oleh faktor global dan musiman. Faktor global utamanya adalah:
· Harga minyak yang tinggi
· Suku bunga Amerika yang meningkat (yield US Treasury 10 tahun sekarang 4,47 persen)
· Dolar AS yang menguat
Selain itu, faktor musiman seperti kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji turut meningkatkan permintaan dolar.
Baca Lainnya:
May Day 2026, Puan: Aspirasi Jadi Pengingat Negara Tingkatkan Perlindungan Pekerja
7 Langkah Strategis BI untuk Perkuat Rupiah
Untuk merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia melaporkan kepada Presiden Prabowo terkait tujuh langkah strategis:
1. Intervensi di pasar valuta asing (dalam dan luar negeri). “Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” jelasnya.
2. Penguatan arus modal melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari SBN dan saham.
3. Koordinasi fiskal-moneter yang erat. BI terus melakukan pembelian SBN di pasar sekunder: “Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun,” terangnya.
4. Penjagaan likuiditas perbankan yang tetap longgar.
5. Pembatasan pembelian dolar di pasar domestik: “Yang dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan menjadi 50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan,” tegasnya.
6. Penguatan intervensi di pasar offshore.
7. Peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi, berkoordinasi dengan OJK.
“Kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari (Ketua OJK) untuk memastikan stabilitas sistem keuangan terjaga,” tutupnya.
Dengan fundamental ekonomi yang solid dan 7 langkah strategis ini, BI optimistis rupiah tidak hanya stabil, tetapi juga berpotensi menguat dalam jangka menengah.(eka)












