PP KAMMI Dukung Sikap MUI soal Pencegahan LGBT, Soroti Dampak bagi Generasi Muda

HITZ SERPONG-Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menyatakan dukungannya terhadap sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait perlunya penanganan dan pencegahan perilaku LGBT di tengah masyarakat.

Dukungan tersebut disampaikan menyusul mencuatnya sejumlah kasus yang melibatkan perilaku LGBT di berbagai lingkungan, termasuk di kalangan mahasiswa.

Ketua Bidang Keumatan dan Wawasan Keislaman PP KAMMI, Jodi Setiawan, mengingatkan bahwa fenomena LGBT sangat berbahaya bagi moral dan kelangsungan generasi bangsa Indonesia.

Baca lainnya:

MUI Tegaskan LGBT Penyimpangan, Rujuk Fatwa Nomor 57 Tahun 2014

Jika dibiarkan, hal itu akan menjadi ancaman serius merusak tatanan keluarga ideal sebagai unit dasar masyarakat, mengganggu fungsi generasi dan populasi di masa depan.

“Seharusnya pemuda dan mahasiswa harus bisa menjadi pionir dalam hal mencegah dan mengkampanyekan bahaya LGBT di kalangan muda, serta mengajak kesembuhan pelaku LGBT dengan kegiatan yang positif,” ujarnya dilansir dari laman resmi MUI Digital, Rabu (24/6/2026).

Senada dengan itu, Ketua Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan PP KAMMI, Muhammad Alfiansyah, juga menyoroti dampak yang ditimbulkan oleh perilaku LGBT dari aspek kesehatan fisik, kesehatan mental, hingga produktivitas ketenagakerjaan.

Dia menilai, praktik seksual yang dilakukan dalam relasi sesama jenis memiliki risiko tinggi terhadap penularan berbagai penyakit infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS, yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

“Dari sudut pandang kesehatan fisik, aktivitas seksual yang menyimpang di lingkungan LGBT memiliki risiko tinggi terhadap penularan berbagai penyakit infeksi menular seksual yang berbahaya, termasuk HIV/AIDS. Dampak buruk ini tidak boleh diremehkan karena menyangkut masa depan fisik generasi muda kita,” jelasnya.

Selain aspek kesehatan fisik, Alfiansyah juga menyoroti persoalan kesehatan mental.

Menurutnya, diperlukan pendekatan pemulihan yang komprehensif agar individu yang mengalami penyimpangan orientasi seksual dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara sehat.

“Kita juga tidak boleh menutup mata dari sisi kesehatan mental. Pemulihan kesehatan mental secara holistik sangat diperlukan agar mereka dapat kembali berfungsi secara sehat di tengah masyarakat,” terangnya.

Baca lainnya:

Kiai Cholil Nafis Ajak Masyarakat Lawan Normalisasi LGBT di Ruang Publik

Lebih lanjut, Alfiansyah menilai persoalan tersebut juga memiliki implikasi terhadap kualitas sumber daya manusia dan produktivitas kerja.

Menurutnya, kondisi kesehatan fisik dan mental yang terganggu dapat berdampak pada stabilitas emosional serta performa individu dalam dunia kerja.

Dia menyebutkan, perusahaan dan instansi membutuhkan tenaga kerja yang sehat secara holistik untuk menjaga kinerja organisasi.

“Jika moralitas, kesehatan fisik, dan kesehatan mental pekerja mengalami kerusakan, maka daya saing bangsa dan bonus demografi Indonesia di masa depan dapat terancam,” tutupnya. (Eka)

Ikuti kami di Saluran Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *