HITZ SERPONG-Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai mengancam budaya literasi masyarakat, terutama generasi muda.
Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarif Muhammad menyoroti fenomena “mulai matinya budaya berpikir yang kritis” akibat kebiasaan masyarakat mengandalkan jawaban instan dari AI seperti ChatGPT dan Gemini.
Baca lainnya:
“Tantangan literasi kita saat ini bukan hanya sebatas tantangan klasik saja. Di era digital hari ini, literasi menghadapi disrupsi fundamental yang sangat bergantung kepada AI. Salah satu yang kita lihat setelah melakukan diskusi dengan beberapa mahasiswa, ialah mulai matinya budaya berpikir yang kritis,” ujar Habib dalam kunjungan ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, ditulis Minggu (23/8/2026).
Menurut Habib, masyarakat kini cenderung tidak lagi menelusuri sumber utama ketika memperoleh informasi, melainkan langsung mengandalkan jawaban dari sistem AI.
“Ketika berdiskusi, mereka terbiasa menjawab pokoknya saja, ketika ditanya nilai filosofis mereka blank,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti fenomena perusahaan AI yang memanfaatkan buku fisik sebagai bahan pelatihan mesin, yang dinilai mengancam ekosistem penerbitan nasional.
Baca lainnya:
Anggota Komisi X DPR RI lainnya, Ruby Chairani Syiffadia mempertanyakan posisi perpustakaan di tengah perubahan perilaku generasi muda.
“Yang jadi pertanyaan sebenarnya, bagaimana posisi keberadaan perpustakaan bagi anak-anak muda dalam mencari dan juga meng-confirm informasi-informasi yang mereka dapatkan secara luas yang belum tentu true or not-nya informasi tersebut,” jelasnya.
Ruby menekankan pentingnya perpustakaan menyesuaikan layanan dengan perubahan perilaku generasi muda tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang belajar dan pengembangan kemampuan literasi. (Eka)
Informasi dalam berita ini disusun berdasarkan siaran pers yang dipublikasikan melalui laman resmi DPR RI.













